Sumber : http://jurnalnasional.com/?med=Koran%20Harian&sec=Utama&rbrk=&id=44239&detail=Utama
RESI gudang "barang" baru di Indonesia. Di luar negeri, program ini sudah dikenal lama. India, Uganda, Polandia, Nigeria, Tanzania dan Ghana adalah beberapa negara yang sudah menjalankan program ini lebih dulu. Di negara-negara tersebut, program ini bahkan sudah memberikan pengaruh besar bagi sektor pertanian maupun perbankan.
Penerapan resi gudang di negara-negara itu sebenarnya dilatarbelakangi permasalahan sama yang dihadapi petani di tanah air. Yakni petani terbiasa menjual hasil pertaniannya saat panen raya, meski saat itu harga anjlok. Minimnya pengembangan sistem pengeringan dan pengawetan juga membuat para pembeli membandrol hasil panen petani dengan harga miring.
"Saya dan teman-teman petani lain terbiasa menjual hasil panen kami kepada para pembeli yang datang ke kampung-kampung. Karena petani tidak memiliki pilihan lain. Kami membutuhkan uang tunai untuk membayar biaya sekolah anak-anak, membayar gaji buruh dan membeli kebutuhan masa tanam besok," kata Sam Arapsatya, petani jagung asal Uganda seperti dikutip microlinks.org.
Kini derita Sam tinggal kenangan. Dengan resi gudang, Sam dan petani di Uganda lainnya telah mereguk banyak manfaat. Karena dengan memiliki dokumen resi gudang, Sam bisa meminjam uang ke bank sebanyak 80 persen dari total harga barang simpanannya.
"Program ini benar-benar membantu kami. Saya bisa meminjam uang dengan jaminan hasil panen kami. Dengan uang itu, saya gunakan membeli benih untuk masa tanam berikutnya. Saya benar-benar bisa mengembangkan pertanian saya," kata Sam.
Di Uganda, program ini formulasikan dalam Undang-undang Sistem Resi Gudang yang telah disahkan parlemen pada 5 April 2006. Namun program ini sudah dimulai setahun sebelumnya dengan pilot project resi gudang kopi di dua lokasi yakni, Uganda Barat dan Uganda Timur. Di Uganda Barat, lima kelompok petani mendepositokan 25 ton kopi Robusta mereka di Resi Gudang Mbarara. Kopi itu kemudian dilelang di Komoditi Bursa Uganda.
Setelah UU itu disahkan, resi gudang dilanjutkan dengan komoditi kapas. Pada Februari 2006, sekitar 100.000 kilogram benih kapas didepositkan di Resi Gudang Kasese dan Bushenyi yang dikelola Persatuan Koperasi Nyakatonsi.
Untuk mempermudah, program ini juga dilengkapi dengan Sistem Informasi Pasar, layanan informasi komoditi, seperti fluktuasi harga. Informasi ini disebarkan melalui radio, koran gratis dan pesan singkat telepon seluler. Petani Uganda di mana pun berada bisa mengetahui harga kopi di pasar internasional dan nasional di lima lokasi berbeda. dengan segera.
Berkat fasilitas tersebut, petani bisa mengambil keputusan cepat dengan mengetahui kondisi harga di pasaran. Sejak diluncurkan, petani semakin menunjukkan antusiasme mereka terhadap program ini. Terbukti, kian hari kian banyak organisasi petani yang berpartisipasi pada program ini.
Namun tidak semua program resi gudang di Uganda berhasil. Pilot project resi gudang komoditi kopi arabika di Uganda Timur seperti Mbale, Sironko, Manafa dan Kapchorwa berjalan lambat. Penyebabnya, iklim kering sempat merusak hasil panen kopi. Selain itu, pengelola program ini juga harus bersaing dengan pembeli lokal yang sangat agresif mendekati petani.
Tak berbeda dengan di Uganda, Tanzania juga memiliki konstitusi khusus yang mengatur sistem resi gudang. Parlemen Tanzania sudah mengesahkan UU Resi Gudang sejak 13 tahun lalu dan Presiden Tanzania mengeluarkan keputusan presiden beberapa bulan kemudian. Tanzania juga sedang membuat aturan operasional resi gudang lebih rinci lagi, termasuk pengembangan manual operasional dan pembentukan badan regulator.
Di sana, kepercayaan petani terhadap program ini terus meningkat. Deposit hasil panen komoditi kapas terus meningkat. Pada 2002 sampai 2003, biji kapas yang didepositokan dengan resi gudang hanya 103.273 saja. Tetapi tiga tahun kemudian, angka itu naik 120 persen. Pada 2005-2006, jumlah biji randu yang didepositokan mencapai 1,2 juta kilogram. Peningkatan juga terlihat dari angka resi gudang kopi dari tahun ke tahun.
Yang menggembirakan peningkatan resi gudang ini berbanding lurus dengan penigkatan kucuran perbankan di sektor pertanian. Pengembangan resi gudang komoditi kapas di sana memang sempat terhambat karena biji randu kerap rusak karena minimnya jumlah mesin pemisah kapas. Untuk menyiasati masalah, Departemen Koperasi dan Pemasaran mengucurkan dana membuka empat lokasi mesin pemisahan biji randu.
Sejak itu, resi gudang telah menghasilkan efisiensi besar-besaran. Kualitas komoditi pun meningkat. Bahkan berkat program ini pula, kapas petani Tanzania bisa masuk dengan mudah ke pasar Inggris hanya dengan bantuan pialang lokal. Petani-petani Ghana juga merasakan manfaat program resi gudang. Bahkan di sana, para petani bisa menjual panen mereka di masa panceklik sekitar 75-270 persen lebih tinggi dari harga panen raya.
Di India, resi gudang bahkan telah merangsang industri perbankan dan sektor pertanian. Tak hanya itu, program ini juga bermanfaat meningkatkan manajemen resiko harga, mengurangi biaya transaksi dan biaya pemasaran sektor pertanian. Resi gudang juga memainkan peran penting yang membuka peluang bagi Negeri Bombay untuk berkompetisi di pasar agrikultur dunia.
Singkatnya, program ini memberikan keuntungan ekonomi yang besar. Kini India bahkan telah memiliki kapasitas gudang untuk program resi gudang sebesar 65,9 juta ton.